Apa itu BI Checking?

Pernahkah Anda mendengar dua istilah di atas? BI Checking atau istilah lainnya yang sering Anda dengar, yaitu Informasi Debitur Individual Historis Bank Indonesia. BI Checking itu merupakan proses pengecekan datanya. Sedangkan hasil atau outputnya sendiri disebut dengan IDI Historis.

untuk detailnya bisa klik disini Apa itu BI Checking

BI Checking bisa dibilang sebagai rekam jejak kredit debitur individual maupun badan usaha. Bagi mereka yang mengajukan permohonan untuk kredit usaha, kredit kendaraan, dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Ketika Anda mengajukan permohonan kredit, pihak bank akan memberikan beberapa persyaratan sebelum kredit yang diajukan mendapatkan persetujuan.

Mengapa setiap pengajuan kredit perlu disaring sedimikian ketat oleh pihak bank? Tujuannya tidak lain untuk menghindari risiko kredit macet. Bank akan melakukan pengecekan dan penilaian kelayakan pemberian kredit kepada calon nasabahnya dengan berbagai cara.

sid

Salah satunya melalui data yang berasal dari Bank Indonesia. IDI historis atau Informasi Debitur Individual Historis merupakan data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia terkait historis kredit suatu nasabah dari berbagai bank yang ada di Indonesia.

Data IDI Historis sendiri mencatat histori pembayaran tagihan kredit yang dilakukan oleh nasabah dalam kurun waktu dua tahun terakhir atau dua puluh empat bulan terakhir.

Data debitur disimpan dan dicatat dalam database SID Bank Indonesia. Adapun kebenaran dan keakuratan informasi yang diberikan oleh IDI Historis merupakan tanggung jawab dari lembaga keuangan anggota Kredit Biro yang melaporkan data tersebut.

Jika sebelumnya Anda pernah mengalami kredit macet maka pihak bank lain yang akan memberikan kredit, secara otomatis menolak pengajuan yang Anda lakukan. Langkah pencegahan ini bertujuan agar masalah kredit macet dapat diminimalisir dan tidak terjadi kembali pada perusahaan mereka.

Ada kasus begini, ada seorang bapak pengusaha memiliki rumah seharga satu miliar rupiah di daerah Kota Depok. Dan ia ingin mengekspansi bisnisnya ke luar kota sehingga membutuhkan dana sekitar seratus juta rupiah saja.

Ia mencoba mengajukan pinjaman kredit usaha ke bank, namun ditolak oleh pihak bank lantaran beberapa bulan silam ada masalah kredit macet dengan kartu kredit yang ia miliki. Sehingga tercatat dalam proses BI Checking mendapatkan raport merah.

Kesal ditolak, ia berkata kepada pihak bank, “sayakan punya rumah satu miliar, cuma pinjam seratus juta saja masa tidak bisa?!”

Kalau dilihat dari aset yang dimiliki memang bapak ini termasuk golongan orang yang berada, tapi mengapa pada saat proses pengajuan kredit tetap ditolak. Ada yang bisa nebak?

Sebelu menjawab pertanyaan di atas langsung. Ada hal yang perlu Anda ketahui mengenai prinsip yang lazim dipergunakan dalam dunia perbankan untuk menilai calon nasabah yang mengajukan permohonan kredit, yaitu dengan prinsip 5 C atau istilah lainnya yaitu 5 C’s of Credit Analysis.

Analisa kelayakan kredit dengan Prinsip 5 C itu sebagai berikut:

  1. Capacity atau kapasitas untuk membayar adalah hal terpenting dari lima prinsip 5C. Pihak bank atau lembaga pembiayaan akan menilai bagaimana niat Anda untuk membayar kembali pinjaman yang diberikan. Biasanya mereka akan mempertimbangkan mulai dari tempo waktu pembayaran, arus kas pada perusahaan Anda, dan kemungkinan terkait suksesnya pembayaran pinjaman yang telah diberikan.
  2. Capital atau modal adalah uang yang Anda miliki secara pribadi dan telah diinvestasikan ke dalam suatu usaha/bisnis tertentu. Hal ini dapat menjadi indikator jika bisnis gagal, seberapa besar Anda harus menanggung resiko dan pihak bank atau lembaga pembiayaan lebih menyukai orang yang memiliki aset sendiri, dan telah melakukan studi kelayakan bisnisnya sebelum mengajukan pendanaan.
  3. Collateral atau jaminan adalah sebuah bentuk proteksi apabila terjadi kredit macet. Jaminan bisa berupa tanah, rumah, motor, mobil, dan seterusnya. Sebelum pihak bank atau lembaga pembiayaan memberikan pinjaman, dalam perjanjian tertulis antara kreditur dan debitur biasanya tertera tentang hak dan kewajiban serta jaminan akan “berpindahtangan” apabila pihak peminjam tidak dapat memenuhi kewajibannya.
  4. Condition atau kondisi, pihak bank atau lembaga pembiayaan akan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional dan iklim industri secara keseluruhan. Apakah industri yang satu dan yang lainnya dapat berpengaruh pada bisnis Anda atau tidak. Dan kondisi juga menggambarkan tujuan dari pinjaman yang dimaksud. Apakah uang tersebut dipakai untuk penambahan modal usaha, pembelian peralatan, atau investaris kantor?
  5. Character atau karakter adalah tentang penilaian subjektif kepribadian dari calon peminjam dengan mempertimbangkan latar belakang pendidikan dan pengalaman bisnis dalam dunia industri. Selain itu, soal karakter ini juga akan dilihat apakah calon nasabah atau peminjam termasuk orang yang jujur dan berusaha memenuhi kewajibannya atau tidak.

pengertian-kredit

Kembali ke kasus seorang bapak pengusaha tadi, dalam pikirannya ia memiliki jaminan sebesar satu miliar, tetapi mengapa bank tetap tidak mau memberikan pinjaman? Dari sudut bank, memang jaminan itu bukan segalanya. 5 C di atas merupakan tools kesatuan, sehingga jika satu poin tidak dipenuhi maka kemungkinan pengajuan atas pembiayaan atau pendanaan, berpeluang ditolak semakin besar.

Misalnya kondisinya ternyata pembiayaan tersebut disetujui, lantas bapak tersebut mengalami kegagalan dalam bisnisnya sehingga kredit macet. Lalu apakah bapak pengusaha tadi membiarkan gitu saja jaminan rumah satu miliarnya disita oleh pihak bank?

Padahal ia hanya meminjam dana seratus juta. Sudah bisa ditebak bapak tersebut pastinya akan mati-matian untuk mempertahankannya. Nah belum lagi karena aset yang nilainya cukup besar tadi. Sehingga perlu memakan biaya administrasi hingga tahap pengadilan segala. Jadi sudut pandang bank terkait 5C tadi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Manfaat Jika Memiliki Data BI Checking

Setidaknya ada sepuluh manfaat apabila Anda memiliki data BI Checking, diantaranya adalah:

  1. Anda bisa menyimpan data tersebut sebagai dokumentasi pribadi, suatu saat apabila dibutuhkan untuk pengajuan kepemilikan kartu kredit Anda dapat menggunakannya.
  2. Bagi Anda yang ingin memiliki kartu kredit, dengan memiliki data IDI Historis Anda dapat memastikan tidak adanya hambatan pada saat proses pengajuan kartu kredit baru.
  3. Dengan memiliki data IDI Historis, Anda dapat mengetahui di bank mana saja masalah terkait kredit itu muncul. Terkadang nasabah lupa pernah mengalami kredit macet pada tahun silam. Dari data IDI Historis, Anda dapat kembali mengingat peristiwa lalu dan kronologis masalah kredit macet tersebut.
  4. Melalui data IDI Historis, Anda dapat mengetahui out standing terakhir terkait masalah kredit macet.
  5. Dengan memiliki data IDI Historis maka proses analisa dan pengambilan keputusan terkait kelayakanan pemberian kredit dari bank atau perusahaan pembiayaan akan lebih mudah dan cepat.
  6. Data IDI Historis juga memberikan informasi dan gambaran tentang sejarah perilaku Anda sebagai konsumen dalam hal pengelolaan keuangan dan ketertarikan minat terhadap barang dan jasa di masa lalu.
  7. Jika Anda merasa sudah melunasi kredit macet, Anda dapat memastikan apakah bank tersebut sudah memperbaharui laporan data ke pihak Bank Indonesia melalui data terbaru IDI Historis atau BI Checking.
  8. Bagi Anda yang berminat untuk bekerja di bank atau lembaga keuangan, data IDI Historis Anda akan dicek dan menjadi salah satu syarat utama menjadi karyawan bank atau lembaga keuangan lainnya.
  9. Di negara-negara maju sebelum menikah, calon pasangan sama-sama melakukan “BI Checking“. Hal ini bertujuan agar pasangan yang dinikahi tidak memiliki hutang atau tunggakan apapun.
  10. Bagi pemilik perusahaan atau badan usaha, dengan mengetahui data IDI Historis dari para pegawainya. Potensi tindak kejahatan seperti mencuri, penggelapan dana, korupsi, dst. Karena adanya tekanan dari beban hutang kartu kredit, dapat diminimalisir.

logo-jasa-cek-bic

Cara Melakukan BI Checking

Dokumen yang Dibutuhkan untuk Permintaan Data IDI Historis dari Bank Indonesia

Seperti yang Anda telah ketahui sebelumnya bahwa IDI Historis dapat memberikan data-data tidak hanya untuk individual saja tetapi juga bisa suatu badan usaha. Adapun data-data yang Anda perlukan untuk mendapatkan IDI Historis dari Bank Indonesia, yaitu:

Dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan IDI Historis untuk Individual:

  1. KTP/KITAS/KIMS
  2. Nomor Handphone
  3. Surat Elektronik (EMail)

Dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan IDI Historis untuk Badan Usaha:

  1. KTP/KITAS/KIMS
  2. NPWP Badan Usaha
  3. Nomor Akte Badan Usaha
  4. Surat Elektronik (E-Mail)

atau alternatif lainnya dengan Jasa Kami bisa kita lakukan tanpa harus datang ke Bank Indonesia silahkan Like terlebih dahulu FanPage kami di https://www.facebook.com/CekBIChecking selanjutnya langsung tanya saja di inbox

Advertisements