Jumlah kasus penipuan berbasis investasi alias investasi bodong di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Berbagai modus investasi bodong kian bertambah seiring dengan bertambahnya kerugian masyarakat akibat investasi bodong tersebut.

Menurut Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kusumaningtuti S. Soetiono, modus pertama yang perlu diwaspadai adalah menjanjikan keuntungan yang tidak wajar. Apabila kentungan investasi alias return yang ditawarkan lebih tinggi dari bunga deposito bank, maka masyarakat perlu curiga.

“Kalau jauh di atas itu, katakan 4% sebulan berarti setahun 48% harus waspada,” jelas Titu dalam jumpa pers di Kantor OJK Gedung Radius Prawiro Kompleks BI, Jakarta Pusat, Jumat (20/1/2017).

Kemudian, masyarakat juga harus meningkatkan rasa ingin tahunya dengan menanyakan izin perusahaan tersebut dari otoritas terkait dalam hal ini OJK. Modus yang menjanjikan bonus dari perekrutan anggota baru juga perlu diwaspadai. “Mempertanyakan legalitasnya. Siapa yang memberikan izin,” kata Titu.

Bahkan, beberapa perusahaan investasi bodong menghimpun dana masyarakat dengan cara memanfaatkan tokoh masyarakat untuk menarik minat berinvestasi. Hal ini juga yang perlu diwaspadai sebelum memulai berinvestasi.

Untuk mengurangi kerugian masyarakat akibat tawaran investasi bodong, OJK juga melakukan tindakan preventif dengan menggelar sosialisasi di kota-kota besar di Indonesia. Selain itu, OJK juga menghimbau kepada masyarakat untuk melaporkan kegiatan investasi yang dicurigai lewat telepon, email, mobile apps, hingga kantor perwakilan OJK di berbagai daerah.

“Saluran lewat 1500-655, dimanfaatkan email konsumen@ojk.go.id, mobile apps dan tentu saja layanan konsumen di seluruh 35 kantor,” tutup Titu. (mkj/mkj)

 

Advertisements