Informasi yang bagus nih untuk para Nasabah Bank, khususnya yang pernah mengalami eksekusi jaminan karena gagal bayar. Sebab bisa jadi ternyata, jaminan sudah di eksekusi karen gagal bayar, bersamaan dengan itu kesempatan tersebut dimanfaatkan juga oleh pihak Bank untuk mengelabui atau memperdaya Nasabahnya. Nasabah yang biasanya dalam posisi lemah mau tidak mau akan menerima begitu saja. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Informasi mengenai trik mengelabui nasabah tersebut itu terkuak ketika salah satu nasabah Bank korban eksekusi jaminan penasaran lalu bekerja sama dengan Pengacaranya untuk menggali informasi lebih lanjut dan ternyata hasilnya seperti yang bisa diduga lalu memublikasikan informasi tersebut sebagaimana yang disampaikan melalui press release berikut ini:
PRESS RELEASE
Nasabah BRI Cabang Renon Denpasar Ny. NURUL FARIDA didampingi kuasa hukumnya CHRISTOFEL BUTARBUTAR, SH., MH pada Tanggal 17 Nopember 2016 melaporkan M. FANKAR UMRAN/KAKANWIL BRI Propinsi Bali ke Polda Bali atas perbuatan tindak pidana perbankan “pencatatan palsu dalam pembukuan” sebagaimana diatur dalam Pasal 49 (1) Huruf a dan atau b atau Pasal 49 (2) Huruf b UU RI No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan.

Dalam laporannya, Ny. NURUL FARIDA menjelaskan kerugian yang dialaminya sehubungan dengan pelelangan asset miliknya yang dilakukan oleh Kantor Lelang Negara yang dilakukan tanpa melalui proses hukum bahkan cenderung dilakukan dengan tujuan untuk menguasai asset Ny. NURUL FARIDA yang seharusnya selaku nasabah mendapat perlindungan dari Bank selaku Kreditur.
Tindakan melawan hukum yang dilakukan Kakanwil BRI Propinsi Bali jelas terlihat dari suratnya yang sengaja tidak memberikan penjelasan yang sebenarnya mengenai hasil lelang yang menurut Kantor Lelang laku terjual dengan harga Rp. 6,5 M namun oleh Kakanwil BRI dinyatakan hanya Rp. 6,1 M sehingga Pelapor harus membayar lagi untuk melunasi hutangnya. Selain hal tersebut, lelang dilakukan jauh dibawah harga limit yang diberitahukan kepada Pelapor sehingga akibat lelang tersebut, Pelapor dirugikan lebih dari Rp. 10 M.
Kuasa Hukum Pelapor CHRISTOFEL BUTARBUTAR, SH., MH. menjelaskan telah mengirimkan surat kepada KAKANWIL BRI Propinsi Bali agar menjelaskan adanya perbedaan harga lelang tersebut namun sampai Laporan Polisi diajukan tidak diterima penjelasan apapun sehingga proses hukum dengan mengajukan Laporan Polisi merupakan upaya hukum yang harus ditempuh untuk mempertahankan hal-hak Pelapor selaku Nasabah yang seharusnya mendapat perlindungan hukum.
Terkuaknya trik Bank mengelabui nasabahnya ini mungkin karena Bank khususnya yang disebut-sebut dalam press release di atas terlalu serakah. Bagaimana tidak, menurut informasi yang didapat dari Nasabah melalui Pengacaranya tersebut, sudah dari hasil eksekusi yang banyak menimbulkan pertanyaan ditambah pajak, biaya administrasi lelang dan pengumuman di koran yang jumlahnya mencapai empat ratus jutaan rupiah yang sepenuhnya tetap dibebankan kepada Nasabah, juga dipaksa lagi untuk membayar sisa utang sebesar kurang lebih tiga ratus lima puluh jutaan rupiah dengan ancaman akan melakukan eksekusi jaminan tambahan lain yang ada dalam penguasaan Bank. Akan semakin sempurna jugalah tadinya penderitaan Nasabah tersebut, karena jaminan tambahan yang ada itu bisa-bisa akan melayang juga. Uang sebesar itu tentu akan sulit dipenuhi, apalagi sedang dalam kondisi sulit.
Informasi berharga ini ada baiknya dimanfaatkan oleh Nasabah-nasabah yang pernah mengalami hal serupa. Tentu bukan hanya di Bank tersebut. Di Bank-bank lain juga. Siapa tahu ada juga yang menggunakan trik yang sama. Sebab kalau diamati, sering terjadi ada pengkondisian supaya jaminan bisa dieksekusi. Indikasinya, hal yang sering terjadi, pihak Bank menolak pembayaran angsuran khususnya yang sempat bermasalah. Jadi bukannya memberi solusi, malah mencitakan kondisi. Dalam arti, bagaimana supaya jaminan bisa dieksekusi. Terutama yang letaknya strategis dan marketable. Karena bisa jadi sudah ada cukong yang siap bekerjasama.
Masukan juga ini bagi Lembaga Pengawas Bank. Baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bank Indonesia (BI) sesuai fungsi dan peran masing-masing baik yang fungsi dan perannya sebagai regulator, maupun yang terkait dengan perlindungan Nasabah. Dengan mulai terkuaknya modus ini, mungkin ada baiknya dilakukan dulu pemeriksaan khusus secara menyeluruh untuk seluruh Bank yang ada di Indonesia untuk memastikan ada tidaknya modus-modus seperti ini terjadi di Bank-bank lain.
Terakhir, karena Nasabah melalui Pengacaranya telah memilih penyelesaiannya melalui jalur hukum, kita sangat menantikan hasil dan prosesnya seperti apa, supaya kita (khususnya para Nasabah Peminjam atau Debitur) bisa mengambil hikmah dan manfaatnya. Terutama supaya tidak ada lagi korban-korban yang sama kedepannya. Dan tentu, sebelum adanya keputusan yang tetap mengenai kasus ini dari Pengadilan, informasi mengenai trik mengelabui nasabah ini masih merupakan dugaan, alias Patut Diduga.
Advertisements