Bicara mengenai tahun 2016, masih ingatkah Anda apa saja yang sudah terjadi ditahun tersebut? Ya, memang tahun 2016 sudah berlalu dan sudah hampir 2 bulan awal tahun 2017 ini kita menjalaninya. Tidak ada salahnya kita membicarakan kebijakan-kebijakan penting yang sudah terjadi pada tahun 2016. Mumpung masih dibilang fresh di ingatan kita apalagi hal tersebut ada hubungannya dengan urusan keuangan. Ditahun lalu, Presiden Jokowi dipilih media finansial Bloomberg sebagai Pemimpin Asia 2016 dengan Kinerja Terbaik.

Ada 3 hal yang digunakan sebagai tolak ukur atau parameter mengukur pencapaian tersebut dalam sebuah laporan Who’s Had the Worst Year? How Asian Leaders Fared in 2016, yaitu pertumbuhan ekonomi, pergerakan nilai tukar mata uang dan tingkat penerimaan publik. Dari ketiga parameter tersebut, pada masa Pemerintahan Presiden Jokowi tercatat terjadi penguatan Rupiah terhadap Dolar yang sebelumnya melemah sebesar 2,4% (akhir tahun ditutup pada angka Rp13.400-an), pertumbuhan ekonomi 5,02% (walaupun jauh dari realisasi sebesar 5,2%), dan tingkat penerimaan yang berada di angka 69%.

Hasil kinerja Presiden Jokowi tersebut tercapai dengan melibatkan seluruh elemen bangsa dan lembaga negara, termasuk Bank Indonesia (BI). Sebagai lembaga negara yang bersifat independen, BI mengeluarkan kebijakan yang di antaranya berpengaruh terhadap Rupiah. Penguatan Rupiah terhadap Dolar yang kemudian menjadi catatan kinerja terbaik Presiden tahun lalu tak terlepas dari peran BI sebagai penjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Apa saja kebijakan penting dari Bank Indonesia (BI) pada tahun 2016? Berikut ini ulasannya.

Baca Juga: Mentreri Keuangan Menjelaskan Kenapa Pemerintah Butuh Utang

1. Perubahan BI Rate Menjadi BI 7-Day dan Penurunan Suku Bunga Acuan

BI Rate

 

BI Rate atau Suku bunga acuan punya pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari, di antaranya menjaga perekonomian tetap stabil dan mengontrol inflasi. Adanya kendala waktu dalam pengambilan uang di bank setelah turunnya BI Rate menjadi alasan di balik lahirnya BI 7-Day. Berlakunya BI 7-Day mempersingkat waktu lembaga perbankan yang perlu menunggu setahun lamanya untuk menarik uangnya. Suku bunga yang ditetapkan lebih murah dari suku bunga sebelumnya.

Tercatat selama 2016, BI menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali. Yang pada Januari 2016 yang tercatat 7,25% turun hingga menjadi 4,75% pada Desember 2016. Ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan BI menurunkan suku bunga acuan. Dari faktor eksternal, adanya pengaruh dari suku bunga global. Sementara faktor internal cenderung karena pengaruh inflasi dalam negeri.

2. Kelonggaran Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV)

Terbitnya Peraturan BI No. 18/16/PBI/2016 tentang Rasio Loan to Value untuk Kredit Properti, Rasio Financing to Value untuk Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit yang melambat tahun 2016. Beberapa hal yang termuat dalam peraturan tersebut salah satunya di antaranya penurunan uang muka/down payment (DP) menjadi 15%. Sementara DP pembiayaan syariah menjadi 10%. Peraturan tersebut berlaku terhadap KPR rumah tapak, rumah susun, dan ruko.

3. Penurunan Giro Wajib Minimum (GWM)

Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Indonesia

 

Salah satu indikator yang memengaruhi suku bunga dan penyaluran kredit bank adalah Giro Wajib Minimum (GWM). Sebagai informasi, GWM adalah merupakan dana minimum yang tersimpan (Rupiah/valas) yang wajib dipelihara bank dalam rekening giro di BI yang besarannya ditetapkan menurut rasio terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK). Turunnya GWM Primer menjadi 6,5% (berkurang 1%) bertujuan agar likuiditas terjaga sehingga mendorong pertumbuhan kredit.

4. Diperkenalkannya Desain Terbaru Uang NKRI

Pada tanggal 19 Desember 2016, Bank Indonesia secara resmi memperkenalkan desain terbaru uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perubahan tersebut adalah merupakan implementasi dari UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Bergantinya sejumlah wajah pahlawan yang dulu ada di mata uang dengan hadirnya 12 wajah pahlawan tampak pada pecahan Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000, Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000, Rp1.000, Rp500, Rp200, dan Rp100. Sistem keamanan pun ditingkatkan pada mata uang terbaru ini meliputi color shifting, rainbow feature, latent image, ultraviolet feature, rectoverso, dan tactile effect.

5. Peresmian Fintech Office

Fintech Office Bank Indonesia

 

Tren penggunaan teknologi informasi dalam layanan keuangan/finansial mendorong Bank Indonesia (BI) untuk mendirikan Fintech Office. Ramainya usaha rintisan (startup) financial technology (fintech) juga tak bisa dimungkiri menjadi alasan yang melatarbelakangi pendirian Fintech Office. Sekadar informasi, berdasarkan data yang dihimpun BI, terdapat sekitar 142 perusahaan fintech lokal yang berada di Indonesia.

Ada empat fungsi yang melekat pada Fintech Office. Pertama, sebagai katalisator atau fasilitator pengembangan fintech di Indonesia. Kedua, Fintech Office menjadi business intelligence dalam hal ini perkembangan hasil kajian antara BI dan otoritas terkait akan diinformasikan ke fintech. Ketiga, menjadi assessment yang nantinya memetakan potensi, manfaat, dan risiko produk fintech. Keempat, melakukan koordinasi dan komunikasi untuk menyerap informasi dan memberikan umpan balik dalam rangka mendukung kebijakan BI.

Baca Juga: Cara Menjaga Reputasi BI Checking Dengan Cara Ini

Ketahui Kebijakan Terkini dan Mulai Melek Keuangan

Memantau situasi dan perkembangan yang terjadi di tanah air sangat penting apalagi yang ada sangkut-pautnya dengan soal keuangan/finansial. Manfaatnya buat kita adalah menjadi lebih update dan melek keuangan agar terhindar dari beragam penipuan atau berita hoax tentang finansial.

Bank Indonesia (BI) yang merupakan bank sentral berperan dalam menjaga kestabilan Rupiah, menciptakan kinerja perbankan yang sehat, mengatur/menjaga kelancaran sistem pembayaran, dan menghindari stabilitas keuangan dari ancaman-ancaman yang mungkin saja terjadi. Dari perannya tersebut, kebijakan-kebijakan yang diambil BI tentu berpengaruh terhadap hajat hidup banyak orang, khususnya investasi hingga pinjaman. Misalnya, kenaikan suku bunga acuan akan mengakibatkan turunnya minat orang untuk mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Sementara simpanan semacam deposito menarik minat banyak orang. Karena itu, ketahui kebijakan-kebijakan Pemerintah, khususnya BI, agar bisa mengambil keputusan yang tepat.

Yuk, tahun ini marilah kita semua mulai melek keuangan dan mengetahui kebijakan penting dari para pemangku kepentingan (stakeholder) di Indonesia.

Advertisements