Konon katanya, orangtua yang sukses otomatis anaknya bakal ikut sukses juga. Tapi pada kenyataannya, kesuksesan orangtua belum tentu menjamin sang anak pasti ikut berhasil juga kelak.

Gak ada ceritanya kehidupan yang autopilot seperti itu. Sebagai orangtua, mendidik anak sudah jadi tanggung jawab yang tidak dapat dihindari lagi.

Bila kita sebagai orangtua bisa dikatakan sudah sukses, bersyukurlah. Apalagi jika kesuksesan itu diraih melalui perjuangan yang cukup berat.

Setelah mempunyai anak, tiba saatnya buat kita untuk menyiapkan sang buah hati agar dapat menerima tongkat estafet kesuksesan tersebut. Mungkin kita dapat belajar dari beberapa pengalaman hidup, termasuk meniru cara mendidik anak dari orangtua.

Namun zaman terus berkembang. Bisa jadi model untuk pola pendidikan zaman dahulu sudah tidak cocok lagi untuk dapat diterapkan pada era zaman sekarang.

Sebagai referensi, berikut ini contoh kebiasaan anak yang harus diterapkan sejak dini demi kesuksesan keuangan dan karier :

1. Menabung

Anjuran menabung sudah diajarkan sejak dulu di sekolah-sekolah. Namun pilihan menabung pada zaman dulu gak sebanyak sekarang. Anak lebih banyak nabung di celengan ayam ketimbang rekening bank.

Kini, semua bank punya produk tabungan untuk anak. Kita bisa membuatkan tabungan buat buah hati dengan menebeng rekening kita.

Uang saku bisa kita transfer ke rekening itu, entah per minggu atau per bulan. Berikan target berapa tabungan per hari, per pekan, atau per bulan. Bila terkumpul, bisa untuk membeli barang yang disukai sang buah hati.

Bila mencapai target, kita bisa berikan reward berupa “bunga” tambahan selain dari bank. Namun bila gagal penuhi target, mungkin kita bisa menerapkan punishment berupa pembekuan rekening. Artinya, dana di rekening itu gak bisa diutak-atik dalam periode tertentu, misalnya satu minggu. Tahan kartu ATM dan buku rekening, kembalikan lagi ketika masa hukuman sudah lewat.

Kebiasaan menabung akan mengajari anak mengatur keuangan demi mencapai tujuan. Sementara hukuman yang diberikan kalau anak lalai menabung merupakan bentuk konsekuensi bila menganggap remeh rencana finansial.

2. Membaca

Membaca adalah aktivitas langka di zaman ini, ketika kebanyakan orang lebih suka melototin layar gadget ketimbang buka lembar demi lembar buku.

Coba ajak anak setidaknya sebulan sekali ke toko buku untuk beli bacaan yang ia sukai. Bimbing untuk memilih buku yang gak cuma bertema hiburan. Mau seminggu sekali juga boleh, lebih bagus malah.

3. Hidup sederhana

Banyak contoh orang sukses, baik dalam hal keuangan maupun karier, yang hidup sederhana. Mereka gak gembar-gembor dan pamer kekayaan di muka umum, terutama media sosial.

Anak-anak perlu diajari pentingnya hidup sederhana demi sukses keuangan dan karier seperti mereka. Sebab pengeluaran bisa dihemat lewat cara hidup sederhana.

Misalnya dengan membawakan bekal buat makan ketimbang memberikan duit jajan. Beri tahu ke anak, meski bukan makanan mahal, bekal itu lebih sehat karena buatan sendiri. Selain itu, uang jajan bisa ditabung untuk dibelikan sesuatu yang ia kehendaki kelak.

4. Mandiri

Kemandirian juga penting sebagai bekal sukses keuangan dan karier. Dunia kerja amatlah keras. Jika gak bisa mandiri, bakal susah menang dalam persaingan kerja.

Sebagai anak, wajar saja jika banyak bergantung kepada kita selaku orangtua. Tapi bukan berarti kita mesti selalu memanjakan sang buah hati. Coba berikan kepercayaan kepada mereka untuk mandiri dalam bertindak.

Salah satu caranya, mendorong anak untuk mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Kegiatan ini sangat berguna untuk melatih kemandirian, terutama pada saat ada kemah. Adapun dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa juga memberikan tugas rutin seperti menyapu lantai, menyiram tanaman, mencuci piring serta membereskan kamar.

Baca Juga : Siapkan Dana Pendidikan Anak lewat Asuransi Pendidikan

Memang, tidak ada formula khusus yang dapat memastikan kesuksesan setiap anak. Tapi ada baiknya jika kita mencoba menanamkan empat kebiasaan tersebut di atas kepada anak kita sejak dini.

Kita selaku orang tua bertugas mengarahkan, mendidik, serta menyokong anak. Namun tidak perlu sampai memaksakan kehendak kita para orangtua agar sesuai dengan keinginan kita. Yang penting anak nyaman menjalani kehidupannya.

Advertisements