Perencanaan Keuangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam perencanaan investasi. Sebab darimana sumber uang untuk investasi jika gaji kita sudah terlanjur dihabiskan semua. Oleh karena itu, sebelum melakukan suatu investasi, ada baiknya yang pertama kali harus dilakukan seharusnya adalah bagaimana mengelola keuangan, tepatnya mengelola pendapatan dari penghasilan kita dengan baik.

Pada prinsipnya, yang namanya pendapatan harus dihabiskan. Hanya saja cara dalam menghabiskannya harus tepat sasaran. Jika tidak, jangankan untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin kita harus terpaksa berutang untuk memenuhinya. Cara yang tepat untuk menghabiskan pendapatan yang baik adalah menggunakan prinsip keuangan 10 – 20 – 30 -40. Seperti apa prinsip keuangan ini?

10% - Untuk Kebaikan10% – Untuk Kebaikan

Misalkan anda baru mulai bekerja dan mendapatkan gaji sebesar UMR Jakarta yaitu Rp 3.1 juta. Dari uang makan, uang transport, Lembur dan komisi katakanlah anda total dapat mengantongi uang Rp 5 juta per bulan. Maka angka 10 dari Prinsip 10 – 20 – 30 – 40 ini adalah anda wajib menghabiskan 10% dari pendapatan Rp 5 juta tersebut yaitu Rp 500.000 untuk hal yang sifatnya untuk kebaikan.

Apa saja sih kategori yang bisa disebut Kebaikan ? Menurut saya sih Universal. Mulai dari sumbangan yang diberikan setiap minggu ketika anda mengunjungi Gereja, Mesjid, Wihara, Pura, ataupun tempat tempat Ibadah lainnya. Atau bisa juga uang Anda dapat diberikan untuk Badan Amal yang legal, panti asuhan, pengelola panti jompo, dan panti panti yang lainnya yang membantu orang yang membutuhkan.

Baca Juga : Cara Menghindari Penipuan Kartu Kredit

Selain hal di atas, menurut saya asuransi sosial yaitu BPJS Kesehatan juga merupakan tempat untuk berbuat kebaikan. Sebab prinsip dari Asuransi adalah orang yang sehat menyantuni orang yang kurang sehat. Jadi premi asuransi yang anda bayarkan tersebut digunakan untuk memberikan fasilitas kesehatan kepada orang yang melakukan klaim. BPJS Kesehatan membantu penerimanya tanpa melihat historis kesehatan sangat berbeda dengan asuransi kesehatan lain yang komersial. Kareba begitu banyaknya masyarakat yang melakukan klaim, bahkan tahun lalu BPJS Kesehatan mengalami defisit.

Dengan membayar angsuran BPJS Kesehatan, berarti secara tidak langsung kita juga ikut serta dalam menyantuni masyarakat yang kurang mampu dalam memperoleh fasilitas kesehatan yang menurut pendapat saya adalah salah satu bentuk kebaikan juga. Buat anda anda yang sudah bekerja di perusahaan formal, kalau tidak salah harusnya sudah dipotong 1% dari gaji dan sisanya sebesar 4% ditanggung perusahaan. Bagi anda yang kurang beruntung karena mendapat asuransi kesehatan komersial dari kantor, sebenarnya juga bisa membayar BPJS Kesehatan dengan memasukkan nama orang tua, pembantu, saudara, ipar dan lainnya. Keterangan mengenai besaran biaya bisa dibaca di situs BPJS Kesehatan.

Jangan melupakan juga dengan Orang Tua kita. Sebagai pihak yang telah melahirkan serta membesarkan kita, orang tua adalah tempat untuk menanamkan kebaikan yang tiada taranya. Jadi dengan memberikan sebagian pendapatan kita kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk kebaikan. Jika orang tua kita sudah tiada, bisa kita berikan ke adik, keponakan atau keluarga kita yang lain yang membutuhkannya. Pemberian tersebut juga harus bijaksana juga tentunya.

Kombinasi dari seluruh hal di atas tentu tidak sedikit, tapi usahakanlah agar setidaknya 10% dari pendapatan kita bisa disisihkan untuk hal yang sifatnya untuk kebaikan.

20 - Untuk Investasi

 

20% – Dana Darurat, Asuransi dan Investasi

Untuk anda yang sebagai tulang punggung suatu keluarga, maka sebaiknya adalah memiliki dana darurat sebesar 6 – 12 kali pengeluaran untuk yang sudah berkeluarga atau 3 – 6 kali yang masih single. Dana darurat dapat disimpan pada instrumen yang aman dan mudah dicairkan seperti tabungan, reksa dana, deposito dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10 – 15 tahun pengeluaran. Baru setelah itu melakukan asuransi. Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis sebaiknya juga punya tapi jika tidak ada dapat menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Namun jika anda ingin memiliki pelayanan asuransi dari rumah sakit swasta, maka asuransi komersial dapat menjadi suatu pertimbangan. Cara yang lebih efisien untuk menjaga risiko tersebut adalah dengan cara pola hidup sehat, rajin berolah raga, pikiran positif dan selalu bahagia.

Baru setelah dana darurat dan asuransi dimiliki sisanya baru kita melakukan investasi. Investasi juga bisa dibagi menjadi 2 bagian. Jika kita masih baru berkarir, maka investasinya difokuskan pada pengembangan diri. Jangan ragu untuk ikut kursus, seminar, pelatihan atau membaca buku yang dapat meningkatkan kemampuan kita. Sebab dengan demikian, kita bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari si pemberi kerja ataupun memiliki usaha yang sukses.

Untuk anda yang sudah cukup berumur, baik yang fokus di pekerjaan ataupun berwirausaha baru kita fokus pada investasi membangun aset produktif seperti reksa dana. Kita juga dapat menyiapkan asuransi, dana darurat dan investasi sekaligus, namun patokannya adalah sekitar 20% dari pendapatan anda.

30 - Untuk Cicilan Produktif30% – Untuk Cicilan Produktif

Dengan meningkatnya harga properti dan tanah setiap tahunnya, adalah hampir tidak mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia untuk dapat memiliki aset tanpa harus berutang. Jadi memiliki “KPM” Kredit Kepemilikan Rumah atau Kredit Kepemilikan Apartemen adalah hal yang sangat wajar. Kemudian suatu sarana tranportasi umum di Indonesia juga tidak begitu bagus2 amat. Jadi sampai kereta api cepat, MRT jadi, rasa-rasanya kendaraan masih akan menjadi suatu kebutuhan prioritas. Demikian pula cicilan untuk memiliki kendaraan bermotor tersebut.

Sepanjang kita berhutang adalah untuk pembelian aset yang memiliki sifat produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulannya pun tidak melebihi 30% dari penghasilan masih dapat dikatakan wajar. Menurut saya, sewa rumah juga dapat dimasukkan dalam kategori ini. Bedanya jika KPR kita mencicil sampai dengan waktu tertentu, sementara kalau sewa kita mencicil seumur hidup.

Baca Juga : Cara Mengetahui Tingkat Rasionalmu Soal Uang dengan cara ini

Bagaimana kalau lebih dari 30% dan masih tetap disetujui oleh bank? Sebenarnya tidak apa2 juga tetapi anda harus sadar bahwa anda mengambil risiko.

Risiko yang paling besar adalah bagaimana jika tiba2 anda kehilangan pekerjaan karena kondisi perusahaan sedang kurang baik? Ingat karena krisis harga minyak, pekerjaan yang dulunya mapan di bidang perminyakan juga tidak selamat dari PHK. Bahkan untuk perusahaan besar yang tidak bergerak di bidang minyak juga bisa terpengaruh perkembangan teknologi. Ingat bagaimana teknologi CD dan DVD membuat perusahaan kaset tutup dan perkembangan internet membuat perusahaan penjual DVD tutup? Siklus seperti ini masih akan terus ada.

Cara yang paling aman adalah menjaga cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan dan memiliki dana darurat untuk menghindari risiko tersebut.

40 - Untuk Kebutuhan Hidup

40% – Untuk Kebutuhan Hidup

Untuk kebutuhan kita sehari-hari mulai dari biaya makan , bayar listrik, biaya tranportasi, biaya rekreasi, dan lain-lain cobalah agar diusahakan sebesar 40% dari penghasilan. Jika UMR jakarta adalah Rp 3,1 juta dan anda tidak memiliki penghasilan tambahan sama sekali, maka kira-kira 40% x Rp 3,1 juta = Rp 1.24 juta dihabiskan untuk kebutuhan hidup. Cukup atau tidak? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Kalau dibilang tidak cukup, buktinya masih banyak terdapat penduduk Jakarta yang mendapat penghasilan dibawah rata2 dan masih bisa bertahan hidup.

Kalau dibilang kurang, ya untuk Jakarta penghasilan sebesar apapun bisa tidak cukup. Sebagai contoh, jika anda senang makan di Mall di kawasan Pacific Place Jakarta, sekali makan setidaknya Rp 200rb – 300rb per orang dan itu adalah biaya minimal. Kecuali anda makan di kantin karyawan di basement parkir mobilnya, mungkin Rp 15-20 rb masih bisa dapat. Kalau setiap hari makan di mall tersebut, maka Rp 10 juta per bulanpun saya yakin masih sangat kurang.

Baca Juga : Pilih mana Kartu Debit atau Kartu Kredit

Ada banyak cara untuk menyikapi hal tersebut, mulai dari memasak dan makan ramai2 di kos2an, makan dengan menu vegetarian, naik kendaraan umum, atau jangan terlalu sering jalan-jalan.

Bagaimana jika angka di atas tidak dapat diterapkan karena kurang?

Sekali lagi, yang namanya angka atau nominal pasti selalu relatif. Namun jika menurut anda angka tersebut kurang menurut saya yang bisa dilakukan antara lain

  1. Menurunkan gaya hidup – karena tuntutan untuk “bergaya” dalam hidup, terkadang sebagian orang menghabiskan uang lebih banyak dari kemampuannya. Dengan menurunkan gaya hidup seperti menggunakan HP yang lebih murah, tidak makan di restoran, tidak sering jalan-jalan ke mal dan lainnya biaya kebutuhan hidup bisa dikurangi.
  2. Membedakan Keinginan dengan Kebutuhan – karena tidak bisa membedakan antara Keinginan yang tidak ada juga tidak apa2 dengan Kebutuhan yang kalau tidak ada kita tidak bisa bekerja atau bahkan mati, banyak penghasilan yang dihabiskan untuk memenuhi keinginan. Yang namanya keinginan itu tidak terbatas, dengan belajar mengendalikan keinginan secara tidak langsung juga membantu kita menghemat pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
  3. Meningkatkan Penghasilan – kalau semuanya sudah dilakukan dan masih tidak cukup, berarti ini tanda bagi anda untuk meningkatkan penghasilan. Silakan bekerja lebih keras, lebih giat dan lebih smart untuk bisa mendapatkan kenaikan penghasilan.
Advertisements